Bisnis bisa diawali dari sebuah Hobi, justru dengan berawal dari Hobi inilah bisnis akan memberikan hasil yang maksimal. Ada banyak jenis tanaman hias yang bisa dijadikan produk unggulan. Unggul karena tahan banting, harga stabil, dan peluang pasar yang besar baik untuk lokal maupun ekpsor. Jenis tanaman Aglaonema salah satunya, tentu sudah tak asing lagi di telinga. Disebut juga ‘Sri Rejeki’ atau 'Chinese Evergreen', tanaman ini merupakan tanaman dari family Araceae. Hampir 40 spesies tergabung dalam genus Aglaonema yang sudah dilepas ke pasaran.
Habitat asli tanaman Aglonema adalah di bawah hutan hujan tropis, tumbuh baik pada areal dengan intensitas penyinaran rendah dan kelembaban tinggi. Kini berbagai macam aglaonema hybrida telah dikembangkan, memiliki penampilan tanaman yang sangat menarik.
Dalam beberapa tahun terakhir bisnis aglaonema tampil sebagai bisnis yang menggiurkan. Bahkan diprediksi ada beberapa varian aglaonema yang akan melejit di pertengahan 2007 sampai 2008. Bagaimana tidak menggiurkan? Bisnis ini bisa diusahakan di lahan sempit.Hanya bermodalkan pekarangan rumah misalnya, pebisnis bisa meraup omzet Rp100- juta per minggu. Para pemain juga tak perlu khawatir pasar bakalan jenuh. Perbandingan antara permintaan dan pasokan aglonema saat ini sekitar 10:1. Belum lagi peluang ekspor yang terbuka luas, ke Belanda misalnya.
Tambahan setiap lembar dari tanaman ini memberikan peluang pendapatan yang tak sedikit. Ambil contoh jika seorang pebisnis yang memiliki 1 induk dan 11 anakan bisa dicangkok menjadi 12 tanaman baru. Dengan harga jual anakan Rp5-juta per pot tambahan Rp60 juta bisa kembali masuk kantong pebisnis.
Tak jarang para pebisnis berburu bibit ke luar negeri, ke negeri Gajah Putih Thailand misalnya. Dengan perawatan yang tak main-main, tambahan setiap tunas menjanjikan rupiah berlipat-lipat. Kendati demikian, tak semua pebisnis sukses menjalani bisnis ini. Oleh karena itu bagi Anda yang ingin memulai bisnis budidaya aglaonema ada beberapa tips yang setidaknya perlu diketahui untuk meminimalisir risiko kerugian.
Pertama, pastikan bidang mana yang akan Anda geluti pada bisnis ini. Budidaya, pemasaran, atau gabungan keduanya? Bagi yang ingin memulai dari budidaya, hati-hati dalam memilih bibit. Oleh karena itu sebaiknya pebisnis memiliki pengetahuan baik tentang tanaman ini sehingga dapat memilih bibit yang baik untuk dikembangkan. Tak jarang kasus kerugian muncul akibat kesalahan memilih bibit padahal telah berusaha melancong hingga ke luar negeri untuk mendapatkannya.
Selanjutnya, pebisnis dibidang budidaya serius dalam perawatan agar dapat menghasilkan anakan semakin banyak dengan kualitas yang baik tentunya. Segmen perdagangan aglaonema juga bisa dipilih untuk menghasilkan perputaran uang yang kencang. Sebagai gambaran, pedagang yang serius bisa meraup modal plus keuntungan hanya dalam setahun. Untuk itu pastikan Anda yakin dengan pilihan bisnis yang akan dijalankan pada tanaman anggun ini. Begitu ada peluang, langsung manfaatkan.
Sumber:
http://yea.co.id/bisnis-menggiurkan-si-tanaman-anggun.html
Foto : http://www.thegardenforums.org/viewtopic.php?f=78&t=7573
kedai kopi, Restoran, warung tenda, angkringan, cafe, dan bisnis rumahan, Konfeksi, makanan cemilan
Showing posts with label Menemukan Peluang Usaha. Show all posts
Showing posts with label Menemukan Peluang Usaha. Show all posts
Saturday, July 17, 2010
Wednesday, April 14, 2010
Bisnis Makanan Roti Sehat
Berawal dari hobi, pasangan Albert dan Julia membesut Pinot Bread, gerai roti dan kue bebas dari bahan pengawet, pemanis dan perasa buatan. Lima tahun berdiri, kini omsetnya mencapai miliaran rupiah per bulan. Mau tahu kiatnya?.
Albert (46 tahun) dan Julia (44 tahun) adalah pasangan suami-istri pencinta makanan. Terutama, roti sehat tanpa bahan pengawet dan perasa buatan serta bercitarasa tinggi. Sayang, di Indonesia mereka sulit menemukannya. “Setiap kali kami mencicipi roti di luar, kami selalu merasa ada yang kurang. Ketika kami beritahu kepada penjual bagaimana cara membuat roti yang baik, kami malah diomelin. Teman-teman juga bilang, mana ada yang membuat roti seperti itu,” ujar Julia mengenang masa lalu sambil tersenyum kecil.
Namun, itu dulu. Kini, Albert dan Julia berhasil membuktikan keyakinannya lewat Pinot Bread, produsen roti sehat yang mereka besut bersama dan sekarang telah memiliki 11 gerai dengan omset miliaran rupiah per bulan. Semua ini diawali dari keengganan Albert mengikuti selera mainstream roti modern yang cepat saji. Setelah berembuk dengan istrinya, Julia yang hobi memasak itu, akhirnya dipilihlah konsep roti Jepang yang dibuat dengan cara tradisional plus bebas bahan pengawet. “Karena, kami mendapat informasi bahwa orang Jepang menemukan kembali cara membuat roti seperti saat pertama kali dibuat dulu di abad pertengahan,” ujar Julia, sarjana hukum dari Universitas Tarumanagara.
Tak mau tanggung-tanggung, Julia pun hijrah ke Jepang selama sebulan. Selain Jepang, Julia juga belajar aneka cake di Filipina, Taiwan dan berbagai negara Eropa. Begitu ilmu didapat, ia segera kembali ke Tanah Air. Tanpa ragu, mereka berdua kemudian menjual rumah mereka di kawasan Kebon Jeruk. Dengan mengantongi dana Rp 500 juta dari hasil penjualan rumah, pada 13 Juli 2005 mereka mendirikan gerai Pinot Bread kedua, di Jalan Meruya Ilir, Jakarta Barat, yang kini menjadi kantor pusat mereka. Slogan citra yang diusung sesuai dengan visinya: “Where Good Taste Comes Naturally”. Pinot Bread sendiri sebenarnya merupakan rebranding dari Pinot Coffee, gerai kopi yang mereka dirikan pada 2001 di Gedung Artha Graha.
Ternyata upaya Albert dan Julia berbuah legit. Banyak yang menyukai roti kreasi mereka yang bercirikan tekstur lembut dan tidak meninggalkan after taste dimakan. Sejak itulah, ekspansi terus dilakukan dengan bermodalkan dana sendiri, plus mengambil kredit pemilikan rumah (KPR). “perlu KPR untuk membangun pabrik pertama di samping toko kedua di Meruya Ilir,”tutur Albert, mantan konsultan teknologi informasi lulusan Manajemen Informatika Universitas Bina Nusantara.
Gerainya terus bertambah dan kini mencapai 11. Lokasinya di gedung perkantoran atau daerah elite. Sebut saja, Sampoerna Strategic Square, La Codefin-Kemang, Menteng, Menara Mulia, dan Menara Standard Chartered yang baru saja dibuka. Gerai-gerai Pinot berukuran 20 m2. Sementara di Menara Mulia dan Menara Standard Chartered berukuran 120-160 m2.
Pinot sengaja menyasar kalangan atas karena ongkos produksinya memang mahal dan selalu mengutamakan kualitas. “memilih bahan baku yang berkualitas tinggi,”ujar Albert. Tepung terigu diimpor dari Jepang, butterdan susu dari Selandia Baru, serta telur sudah dipasteurisasi alias bebas bakteri. Bahkan, sebelum sampai ke pusat pengolahan di Meruya, telur-telur pesanannya harus dicuci dulu kulitnya agar bebas dari kotoran hewan. Aneka kue dan roti Pinot juga diperkaya dengan keju impor dari Jepang, Selandia Baru dan Italia. “membuat choux éclairkami juga menggunakan cocoa butterdari Belgia dan Prancis, jadi bahan kami benar-benar pilihan,”tambah Albert, yang diangguki Julia.
Pengerjaannya pun memakan waktu, minimal 6 jam. “, ada adonan yang harus diendapkan semalaman, terus dicampur adonan baru, dibiarkan 6 jam, dikempeskan, baru dipanggang. Hasilnya, tekstur roti jadi sangat lembut,” kata Albert. “Kalau roti biasa hanya butuh tiga jam dengan pengembang sudah jadi.”
“Roti Pinot itu berbeda dari yang pernah saya makan. Rasanya sangat lembut, makanya saya sering beli,”ujar Alang, seorang notaris yang ditemui SWA tengah berbelanja roti untuk keluarganya di Pinot Bread Meruya. Adapun Cindy, gadis muda yang bekerja di Kantor Pos, mengaku terkesan dengan kelembutan roti Pinot.
“Harga tepung terigu kami dua kali lipat dari harga tepung biasa,”kata Albert. Agar harga jualnya tidak memberatkan konsumen, Pinot mengorbankan margin labanya. “itu umumnya mengambil margin 30% lebih, sementara kami di bawah 20% agar harga produk kami tetap terjangkau,”ujarnya. Sepotong roti kecil dijual seharga Rp 5.500-10 ribu. Sementara aneka cake kecil berharga Rp 20-an ribu. Meski demikian, yang cukup lumayan adalah harga cake-nya, dari Rp 200 ribu untuk ukuran 20×20 cm hingga Rp 1 juta lebih untuk yang berukuran 30×40 cm, tergantung jenisnya.
Meski harganya terbilang mahal, Pinot sering kewalahan meladeni permintaan konsumen. Ketika SWA bertandang ke Pinot, misalnya, Julia berkali-kali menanyakan kepada karyawannya ketersediaan Yokohama Cream Cheese, roti signaturePinot Bread. Begitu roti tersebut datang, pembeli langsung menyambarnya. “selalu kehabisan roti itu,”ujar Julia.
Konsekuensi dari penggunaan bahan baku pilihan tanpa disertai bahan pengawet, perasa dan pemanis buatan, roti Pinot hanya bertahan 2-3 hari. “,” kata Albert, ”kami pesankan ke pembeli, jangan beli banyak-banyak karena hanya kuat 2-3 hari. Kalau mau lagi, tinggal balik ke sini atau pesan antar.”
Berawal dari 3-4 karyawan, kini jumlah karyawan Pinot Bread mencapai 150 orang. Pertengahan 2009, Pinot menambah satu lagi pabriknya di Pondok Gede seluas 800 m2. “pabrik ada head pastry, bakery, cookies,dan sebagainya. Saya sendiri turut mengawasi seminggu sekali,”kata Albert yang mengaku menjual tanah pribadi di daerah kelahirannya, Cilacap, Jawa Tengah, untuk bisa membeli pabrik roti tersebut.
Membesarnya produksi Pinot membuat Albert dan Julia memikirkan ulang pola produksinya. Salah satu contohnya, dua pabrik yang disebut Albert dengan divisi produksi itu, ke depan, akan dijadikan badan hukum tersendiri. “pabrik akan menerima feeproduksi saja,”katanya. Saat ini sistemnya sudah dimulai. Setiap konter memesan sendiri ke pabrik, dengan demikian mereka menjadi mandiri. Diharapkan juga sistem ini akan mengefisiensikan proses produksi karena pesanan konter bakal lebih terkontrol.
Pinot juga mengefektifkan produksinya. Kini, perencanaan pembuatan roti dan kue dibagi dua waktu: perencanaan mingguan dan harian. Setiap Jumat semua gerai diminta membuat perencanaan mingguan. Tujuannya, agar pabrik di Pondok Gede bisa memperkirakan produksi selama seminggu. Selain itu, setiap malam semua konter diminta membuat prediksi penjualan keesokan harinya berdasarkan penjualan hari ini. Pesanan harian ini akan ditangani pabrik di Meruya Ilir. “begini, kami bisa mengurangi wastemenjadi 3%. Sebelumnya, wastekami di atas 5%,”ujar Albert. Mengurangi produk terbuang sangat penting bagi Pinot karena produk yang berbahan daging ditarik setiap 12 jam. Sementara produk berbahan keju dan cokelat ditarik setiap 24 jam.
Rata-rata dalam sehari masing-masing gerai Pinot mampu menjual 400-700 potong roti. Sementara gerai yang sekaligus menjadi kantor pusatnya di Meruya bisa menjual 1.500 potong roti. Adapun produk cake terjual hingga 40 kotak/hari. “semua penjualan di hari normal. Kalau di momen hari raya bisa mencapai 10 kali lipatnya,”Albert menjelaskan.
Pinot juga cukup gencar mengenalkan produk-produknya. Di antaranya, menggelar promo di hari raya. “biasa promo saat Natal, Lebaran dan juga saat hari Valentine dengan meluncurkan cake ,”kata Albert. Saat pembukaan cabang baru dan ulang tahun Pinot, mereka memberikan kepada pelanggan yang minimal Rp 25 ribu. Pinot juga “”melalui sinetron. Jika diperhatikan, beberapa sinetron seperti Cinta Fitrimenayangkan ucapan terima kasih kepada Pinot Bread pada setiap akhir tayangannya. “gara-gara artis yang suka Pinot meminta produsernya bekerja sama dengan kami untuk menyediakan makanan dengan imbalan iklan. Akhirnya sampai sekarang ada sekitar lima sinetron yang bekerja sama dengan Pinot,”ungkap Albert.
Untuk mengenali pelanggan, Pinot membangun database pelanggan yang saat ini jumlahnya mencapai 1.000 konsumen. Untuk masuk sebagai anggota khusus itu, pelanggan harus berbelanja minimal Rp 1 juta di bulan pertama. Keuntungannya, mereka selanjutnya akan mendapat diskon 10% setiap kali berbelanja lagi.
Untuk lebih mengembangkan lagi bisnisnya, Pinot berencana mewaralabakan usahanya. “kami benar-benar hati-hati dalam pembuatan sistemnya. Makanya, berbagai sistem kami ujicobakan sekarang,”ujar Albert.
Albert dan Julia memang serius membesarkan usahanya. Hal ini diakui Kiki Puspitasari, karyawan Pinot Bread Meruya yang sudah bekerja selama 9 bulan. “dan bapak sangat mengutamakan servicekepada pelanggan. Kami semua diajari cara menyapa pelanggan dan melayani konsumen dengan baik,”tutur Kiki.
Andre Vincent Wenas, praktisi bisnis dan dosen di IPMI Business School, menilai Pinot Bread membidik pasar ceruk yang sadar kesehatan. Di Indonesia, pasar golongan tersebut berada di kelas menengah-atas. Karena itu, Pinot memang harus tampil di tempat-tempat yang cukup premium seperti gedung perkantoran elite. “omset dan jumlah karyawannya, nampaknya penawaran mereka sudah diterima early adopter. Selanjutnya, harus dibangun customer relationship managementagar pelanggan tersebut bisa menjadi duta dan mereferensikan Pinot. Promosi referal paling ampuh untuk produk menengah-atas,”saran Andre.
Source:
http://swa.co.id/2010/04/sejoli-menggarap-roti-sehat/
Albert (46 tahun) dan Julia (44 tahun) adalah pasangan suami-istri pencinta makanan. Terutama, roti sehat tanpa bahan pengawet dan perasa buatan serta bercitarasa tinggi. Sayang, di Indonesia mereka sulit menemukannya. “Setiap kali kami mencicipi roti di luar, kami selalu merasa ada yang kurang. Ketika kami beritahu kepada penjual bagaimana cara membuat roti yang baik, kami malah diomelin. Teman-teman juga bilang, mana ada yang membuat roti seperti itu,” ujar Julia mengenang masa lalu sambil tersenyum kecil.
Namun, itu dulu. Kini, Albert dan Julia berhasil membuktikan keyakinannya lewat Pinot Bread, produsen roti sehat yang mereka besut bersama dan sekarang telah memiliki 11 gerai dengan omset miliaran rupiah per bulan. Semua ini diawali dari keengganan Albert mengikuti selera mainstream roti modern yang cepat saji. Setelah berembuk dengan istrinya, Julia yang hobi memasak itu, akhirnya dipilihlah konsep roti Jepang yang dibuat dengan cara tradisional plus bebas bahan pengawet. “Karena, kami mendapat informasi bahwa orang Jepang menemukan kembali cara membuat roti seperti saat pertama kali dibuat dulu di abad pertengahan,” ujar Julia, sarjana hukum dari Universitas Tarumanagara.
Tak mau tanggung-tanggung, Julia pun hijrah ke Jepang selama sebulan. Selain Jepang, Julia juga belajar aneka cake di Filipina, Taiwan dan berbagai negara Eropa. Begitu ilmu didapat, ia segera kembali ke Tanah Air. Tanpa ragu, mereka berdua kemudian menjual rumah mereka di kawasan Kebon Jeruk. Dengan mengantongi dana Rp 500 juta dari hasil penjualan rumah, pada 13 Juli 2005 mereka mendirikan gerai Pinot Bread kedua, di Jalan Meruya Ilir, Jakarta Barat, yang kini menjadi kantor pusat mereka. Slogan citra yang diusung sesuai dengan visinya: “Where Good Taste Comes Naturally”. Pinot Bread sendiri sebenarnya merupakan rebranding dari Pinot Coffee, gerai kopi yang mereka dirikan pada 2001 di Gedung Artha Graha.
Ternyata upaya Albert dan Julia berbuah legit. Banyak yang menyukai roti kreasi mereka yang bercirikan tekstur lembut dan tidak meninggalkan after taste dimakan. Sejak itulah, ekspansi terus dilakukan dengan bermodalkan dana sendiri, plus mengambil kredit pemilikan rumah (KPR). “perlu KPR untuk membangun pabrik pertama di samping toko kedua di Meruya Ilir,”tutur Albert, mantan konsultan teknologi informasi lulusan Manajemen Informatika Universitas Bina Nusantara.
Gerainya terus bertambah dan kini mencapai 11. Lokasinya di gedung perkantoran atau daerah elite. Sebut saja, Sampoerna Strategic Square, La Codefin-Kemang, Menteng, Menara Mulia, dan Menara Standard Chartered yang baru saja dibuka. Gerai-gerai Pinot berukuran 20 m2. Sementara di Menara Mulia dan Menara Standard Chartered berukuran 120-160 m2.
Pinot sengaja menyasar kalangan atas karena ongkos produksinya memang mahal dan selalu mengutamakan kualitas. “memilih bahan baku yang berkualitas tinggi,”ujar Albert. Tepung terigu diimpor dari Jepang, butterdan susu dari Selandia Baru, serta telur sudah dipasteurisasi alias bebas bakteri. Bahkan, sebelum sampai ke pusat pengolahan di Meruya, telur-telur pesanannya harus dicuci dulu kulitnya agar bebas dari kotoran hewan. Aneka kue dan roti Pinot juga diperkaya dengan keju impor dari Jepang, Selandia Baru dan Italia. “membuat choux éclairkami juga menggunakan cocoa butterdari Belgia dan Prancis, jadi bahan kami benar-benar pilihan,”tambah Albert, yang diangguki Julia.
Pengerjaannya pun memakan waktu, minimal 6 jam. “, ada adonan yang harus diendapkan semalaman, terus dicampur adonan baru, dibiarkan 6 jam, dikempeskan, baru dipanggang. Hasilnya, tekstur roti jadi sangat lembut,” kata Albert. “Kalau roti biasa hanya butuh tiga jam dengan pengembang sudah jadi.”
“Roti Pinot itu berbeda dari yang pernah saya makan. Rasanya sangat lembut, makanya saya sering beli,”ujar Alang, seorang notaris yang ditemui SWA tengah berbelanja roti untuk keluarganya di Pinot Bread Meruya. Adapun Cindy, gadis muda yang bekerja di Kantor Pos, mengaku terkesan dengan kelembutan roti Pinot.
“Harga tepung terigu kami dua kali lipat dari harga tepung biasa,”kata Albert. Agar harga jualnya tidak memberatkan konsumen, Pinot mengorbankan margin labanya. “itu umumnya mengambil margin 30% lebih, sementara kami di bawah 20% agar harga produk kami tetap terjangkau,”ujarnya. Sepotong roti kecil dijual seharga Rp 5.500-10 ribu. Sementara aneka cake kecil berharga Rp 20-an ribu. Meski demikian, yang cukup lumayan adalah harga cake-nya, dari Rp 200 ribu untuk ukuran 20×20 cm hingga Rp 1 juta lebih untuk yang berukuran 30×40 cm, tergantung jenisnya.
Meski harganya terbilang mahal, Pinot sering kewalahan meladeni permintaan konsumen. Ketika SWA bertandang ke Pinot, misalnya, Julia berkali-kali menanyakan kepada karyawannya ketersediaan Yokohama Cream Cheese, roti signaturePinot Bread. Begitu roti tersebut datang, pembeli langsung menyambarnya. “selalu kehabisan roti itu,”ujar Julia.
Konsekuensi dari penggunaan bahan baku pilihan tanpa disertai bahan pengawet, perasa dan pemanis buatan, roti Pinot hanya bertahan 2-3 hari. “,” kata Albert, ”kami pesankan ke pembeli, jangan beli banyak-banyak karena hanya kuat 2-3 hari. Kalau mau lagi, tinggal balik ke sini atau pesan antar.”
Berawal dari 3-4 karyawan, kini jumlah karyawan Pinot Bread mencapai 150 orang. Pertengahan 2009, Pinot menambah satu lagi pabriknya di Pondok Gede seluas 800 m2. “pabrik ada head pastry, bakery, cookies,dan sebagainya. Saya sendiri turut mengawasi seminggu sekali,”kata Albert yang mengaku menjual tanah pribadi di daerah kelahirannya, Cilacap, Jawa Tengah, untuk bisa membeli pabrik roti tersebut.
Membesarnya produksi Pinot membuat Albert dan Julia memikirkan ulang pola produksinya. Salah satu contohnya, dua pabrik yang disebut Albert dengan divisi produksi itu, ke depan, akan dijadikan badan hukum tersendiri. “pabrik akan menerima feeproduksi saja,”katanya. Saat ini sistemnya sudah dimulai. Setiap konter memesan sendiri ke pabrik, dengan demikian mereka menjadi mandiri. Diharapkan juga sistem ini akan mengefisiensikan proses produksi karena pesanan konter bakal lebih terkontrol.
Pinot juga mengefektifkan produksinya. Kini, perencanaan pembuatan roti dan kue dibagi dua waktu: perencanaan mingguan dan harian. Setiap Jumat semua gerai diminta membuat perencanaan mingguan. Tujuannya, agar pabrik di Pondok Gede bisa memperkirakan produksi selama seminggu. Selain itu, setiap malam semua konter diminta membuat prediksi penjualan keesokan harinya berdasarkan penjualan hari ini. Pesanan harian ini akan ditangani pabrik di Meruya Ilir. “begini, kami bisa mengurangi wastemenjadi 3%. Sebelumnya, wastekami di atas 5%,”ujar Albert. Mengurangi produk terbuang sangat penting bagi Pinot karena produk yang berbahan daging ditarik setiap 12 jam. Sementara produk berbahan keju dan cokelat ditarik setiap 24 jam.
Rata-rata dalam sehari masing-masing gerai Pinot mampu menjual 400-700 potong roti. Sementara gerai yang sekaligus menjadi kantor pusatnya di Meruya bisa menjual 1.500 potong roti. Adapun produk cake terjual hingga 40 kotak/hari. “semua penjualan di hari normal. Kalau di momen hari raya bisa mencapai 10 kali lipatnya,”Albert menjelaskan.
Pinot juga cukup gencar mengenalkan produk-produknya. Di antaranya, menggelar promo di hari raya. “biasa promo saat Natal, Lebaran dan juga saat hari Valentine dengan meluncurkan cake ,”kata Albert. Saat pembukaan cabang baru dan ulang tahun Pinot, mereka memberikan kepada pelanggan yang minimal Rp 25 ribu. Pinot juga “”melalui sinetron. Jika diperhatikan, beberapa sinetron seperti Cinta Fitrimenayangkan ucapan terima kasih kepada Pinot Bread pada setiap akhir tayangannya. “gara-gara artis yang suka Pinot meminta produsernya bekerja sama dengan kami untuk menyediakan makanan dengan imbalan iklan. Akhirnya sampai sekarang ada sekitar lima sinetron yang bekerja sama dengan Pinot,”ungkap Albert.
Untuk mengenali pelanggan, Pinot membangun database pelanggan yang saat ini jumlahnya mencapai 1.000 konsumen. Untuk masuk sebagai anggota khusus itu, pelanggan harus berbelanja minimal Rp 1 juta di bulan pertama. Keuntungannya, mereka selanjutnya akan mendapat diskon 10% setiap kali berbelanja lagi.
Untuk lebih mengembangkan lagi bisnisnya, Pinot berencana mewaralabakan usahanya. “kami benar-benar hati-hati dalam pembuatan sistemnya. Makanya, berbagai sistem kami ujicobakan sekarang,”ujar Albert.
Albert dan Julia memang serius membesarkan usahanya. Hal ini diakui Kiki Puspitasari, karyawan Pinot Bread Meruya yang sudah bekerja selama 9 bulan. “dan bapak sangat mengutamakan servicekepada pelanggan. Kami semua diajari cara menyapa pelanggan dan melayani konsumen dengan baik,”tutur Kiki.
Andre Vincent Wenas, praktisi bisnis dan dosen di IPMI Business School, menilai Pinot Bread membidik pasar ceruk yang sadar kesehatan. Di Indonesia, pasar golongan tersebut berada di kelas menengah-atas. Karena itu, Pinot memang harus tampil di tempat-tempat yang cukup premium seperti gedung perkantoran elite. “omset dan jumlah karyawannya, nampaknya penawaran mereka sudah diterima early adopter. Selanjutnya, harus dibangun customer relationship managementagar pelanggan tersebut bisa menjadi duta dan mereferensikan Pinot. Promosi referal paling ampuh untuk produk menengah-atas,”saran Andre.
Source:
http://swa.co.id/2010/04/sejoli-menggarap-roti-sehat/
Wednesday, April 7, 2010
Kiat Memilih Waralaba
Peluang usaha waralaba merupakanbisnis yang cukup menjanjikan dan sedang naik daun. Banyak tawaran bisnis waralaba yang disodorkan ke arah kita. Mulai dari peluang usaha waralaba makanan, pakaian, retail, kesehatan dan lain sebagainya. Bisnis waralaba merupakan alternatif bisnis yang cukup menjanjikan keuntungan. Keuntungan pada dua sisi, sisi pembeli produk waralaba dan sisi penjual atau pemilik merek bisnis waralaba. Boleh dikatakan bisnis waralaba menawarkan keuntungan kerjasama secara simbiosis mutualisme atau sama-sama untung.
Itu semua adalah dalam tataran normatif dan konsep. Besarnya minat menggeluti bisnis melalui waralaba atau franchise ini ternyata harus dicermati secara hati-hati. Ada banyak penjual waralaba yang menawarkan keuntungan yang besar tetapi tidak realistis. Karena itu berikut ada beberapa tips dalam memilih bisnis waralaba:
1. Pilihlah produk yang sesuai dengan anda, baik potensi pasar, pemahaman bisnis dan lain-lain.
2. Tentukan perusahaan waralaba tempat kita akan bermitra, pilih yang bonafide dan terpercaya.
3.Pelajari estimasi keuangan yang disodorkan pada penawaran secara jeli.
4.Pastikan nama warala yang ditawarkan tidak dalam sengketa
5. Kenali kredibilitas dari pemilik brand waralaba tersebut.
Dengan menerapkan langkah dan tips tersebut, kita akan terhindar dari memilih bisnis waralaba yang menjerumuskan kita. Peluang usaha waralaba memang memberikan kesempatan kepada pengusaha pemula untuk terjun ke dunia bisnis.
Sumber: http://galeriukm.web.id/artikel-usaha/tips-memilih-waralaba-yang-menguntungkan
Itu semua adalah dalam tataran normatif dan konsep. Besarnya minat menggeluti bisnis melalui waralaba atau franchise ini ternyata harus dicermati secara hati-hati. Ada banyak penjual waralaba yang menawarkan keuntungan yang besar tetapi tidak realistis. Karena itu berikut ada beberapa tips dalam memilih bisnis waralaba:
1. Pilihlah produk yang sesuai dengan anda, baik potensi pasar, pemahaman bisnis dan lain-lain.
2. Tentukan perusahaan waralaba tempat kita akan bermitra, pilih yang bonafide dan terpercaya.
3.Pelajari estimasi keuangan yang disodorkan pada penawaran secara jeli.
4.Pastikan nama warala yang ditawarkan tidak dalam sengketa
5. Kenali kredibilitas dari pemilik brand waralaba tersebut.
Dengan menerapkan langkah dan tips tersebut, kita akan terhindar dari memilih bisnis waralaba yang menjerumuskan kita. Peluang usaha waralaba memang memberikan kesempatan kepada pengusaha pemula untuk terjun ke dunia bisnis.
Sumber: http://galeriukm.web.id/artikel-usaha/tips-memilih-waralaba-yang-menguntungkan
Friday, March 26, 2010
Waralaba Sektor Makanan Paling Diminati
Waralaba Sektor Makanan Pada tahun 2009 menjadi penyumbang terbesar dalam perputaran omzet bisnis waralaba di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Dewan Pengarah WALI (Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia) , Amir Karamoy . Kecenderungannya Waralaba pada sektor makanan masih akan menjadi primadona di tahun mendatang. Hal tersebut mengingat kebutuhan akan makanan dan minuman menjadi harga mati setiap orang.
Besarnya peluang usaha waralaba si sektor makanan membuat Amir Karamoy menyarankan, masyarakat yang tertarik terjun ke bisnis makanan dan bisnis minuman bisa mencoba peluang di usaha es krim, yoghurt, fast-food, atau makanan kecil seperti donat.
Bersumber dari waralabaku dot kom berikut beberapa waralaba makanan yang mungkin bisa dijajagi kemungkinannya.
1. My Crepes
Bisnis My Crepes
Pelan tapi pasti telah memberikan hasil positif bagi perkembangan My Crepes, hal ini dibuktikan dalam waktu tidak kurang dari 2 tahun My Crepes telah merambah ke kota – kota besar diantaranya : Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Magelang, Surabaya bahkan sudah menembus luar pulau jawa yaitu Kalimantan.
Saat ini My Crepes telah memiliki lebih dari 21 Outlet yang tersebar di berbagai kota dan propinsi dan terus akan di kembangkan ke kota – kota lain di seluruh Indonesia. Kesempatan ini terbuka untuk siapa saja yang memiliki jiwa Wirausaha. ( Baca Business Opportunities My Crepes ).
Manajemen My Crepes akan terus melakukan inovasi, support untuk perkembangan My Crepes di seluruh Indonesia dengan sistem menunjuk perwakilan di setiap Kota / Kabupaten. Dengan demikian kualitas produk akan terus terjaga kualitasnya dan untuk memudahkan mata rantai distribusi.
Lebih lengkap bisa dilihat di http://www.waralabaku.com/for_detil.php?fid=487
2. Mac Kriukk Mac Krezzz
Mac Kriukk Mac Krezzz berasal dari Malang Jawa Timur, adapun produknya Makaroni, Tela, Tahu, Kentang. Memang kami tidak meng Khususkan hanya satu produk saja, tetapi beberapa produk untuk mengantisipasi konsumen jenuh/bosan dengan produk tertentu sehingga konsumen dimanjakan dengan banyak pilihan produk dan rasa ,manajemen akan selalu melakukan inovasi baru dengan menambah produk-produk baru apabila penjualan dan konsumen menurun, inilah keunggulan Mac Kriukk Mac Krezzz di bandingkan dengan BU/Waralaba lainnya yang sejenis.
Lebih Lengkap bisa dilihat di http://www.waralabaku.com/for_detil.php?fid=670
Besarnya peluang usaha waralaba si sektor makanan membuat Amir Karamoy menyarankan, masyarakat yang tertarik terjun ke bisnis makanan dan bisnis minuman bisa mencoba peluang di usaha es krim, yoghurt, fast-food, atau makanan kecil seperti donat.
Bersumber dari waralabaku dot kom berikut beberapa waralaba makanan yang mungkin bisa dijajagi kemungkinannya.
1. My Crepes
Bisnis My Crepes
Pelan tapi pasti telah memberikan hasil positif bagi perkembangan My Crepes, hal ini dibuktikan dalam waktu tidak kurang dari 2 tahun My Crepes telah merambah ke kota – kota besar diantaranya : Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Magelang, Surabaya bahkan sudah menembus luar pulau jawa yaitu Kalimantan.
Saat ini My Crepes telah memiliki lebih dari 21 Outlet yang tersebar di berbagai kota dan propinsi dan terus akan di kembangkan ke kota – kota lain di seluruh Indonesia. Kesempatan ini terbuka untuk siapa saja yang memiliki jiwa Wirausaha. ( Baca Business Opportunities My Crepes ).
Manajemen My Crepes akan terus melakukan inovasi, support untuk perkembangan My Crepes di seluruh Indonesia dengan sistem menunjuk perwakilan di setiap Kota / Kabupaten. Dengan demikian kualitas produk akan terus terjaga kualitasnya dan untuk memudahkan mata rantai distribusi.
Lebih lengkap bisa dilihat di http://www.waralabaku.com/for_detil.php?fid=487
2. Mac Kriukk Mac Krezzz
Mac Kriukk Mac Krezzz berasal dari Malang Jawa Timur, adapun produknya Makaroni, Tela, Tahu, Kentang. Memang kami tidak meng Khususkan hanya satu produk saja, tetapi beberapa produk untuk mengantisipasi konsumen jenuh/bosan dengan produk tertentu sehingga konsumen dimanjakan dengan banyak pilihan produk dan rasa ,manajemen akan selalu melakukan inovasi baru dengan menambah produk-produk baru apabila penjualan dan konsumen menurun, inilah keunggulan Mac Kriukk Mac Krezzz di bandingkan dengan BU/Waralaba lainnya yang sejenis.
Lebih Lengkap bisa dilihat di http://www.waralabaku.com/for_detil.php?fid=670
Monday, March 15, 2010
Aneka Peluang Usaha Waralaba Makanan
Peluang usaha memang sangat beragam di sekitar kita dan banyak untuk dimasuki. Salah satu usaha yang semakin menjamur digeluti adalah bisnis Waralaba. Usaha waralaba merupakan shortcut dalam memiliki sebuah bisnis. Peluang Usaha waralaba yang menawarkan kemudahan dan modal yang kecil membuat banyak orang menekuni usaha ini. Banyak bidang usaha yang sudah dilakukan dengan sistem waralaba. Dalam bidang makanan misalnya, Peluang usaha bidang makanan memang tidak pernah ada matinya. Selama manusia makan makan peluang usaha makanan selalu terbuka. Waralaba makanan beragam mulai dari makanan berat sampai ke makanan yang ringan.
Peluang usaha waralaba makanan banyak yang ditawarkan dengan harga yang murah, bagi anda yang bermodal kecil jangan khawatir, anda tetap bisa memiliki sebuah bisnis yang bisa memberikan income yang lumayan besar. Berikut beberara daftar peluang usaha waralaba makanan:
1. Waralaba Es
- Es Goyang Cello
Es Krim Traditional Tempo Dulu menggunakan bahan alami tanpa bahan bahan kimia tambahan .Modal Minimal Rp 2.600.000
- Es Teler Satu-Satu
Peluang usaha es teler dalam bentuk counter (booths) dengan investasi ringan. Menyajikan 11 macam es teler yang diracik dari buah pilihan.Modal Minimal Rp 17.000.000
2. Waralaba Makanan Ringan
- L3 CIRENG ISI
L3 CIRENG ISI adalah kuliner khas tatar sunda yang sudah dimodernisir mulai dari bentuk, rasa, isi dan penyajiannya. Modal Minimal Rp 5.000.000.
- Mr. Tacoz
Makanan khas Meksiko dengan harga terjangkau dan halal Modal Minimal Rp 20.000.000
Masih banyak lagi peluang usaha Waralaba makanan yang ditawarkan. Yang terpenting kita harus jeli dalam memilih waralaba jangan sampai terbujuk oleh janji-janji yang manis tetapi tidak realistis.
Sumber:
1. http://www.waralabaku.com
Peluang usaha waralaba makanan banyak yang ditawarkan dengan harga yang murah, bagi anda yang bermodal kecil jangan khawatir, anda tetap bisa memiliki sebuah bisnis yang bisa memberikan income yang lumayan besar. Berikut beberara daftar peluang usaha waralaba makanan:
1. Waralaba Es
- Es Goyang Cello
Es Krim Traditional Tempo Dulu menggunakan bahan alami tanpa bahan bahan kimia tambahan .Modal Minimal Rp 2.600.000
- Es Teler Satu-Satu
Peluang usaha es teler dalam bentuk counter (booths) dengan investasi ringan. Menyajikan 11 macam es teler yang diracik dari buah pilihan.Modal Minimal Rp 17.000.000
2. Waralaba Makanan Ringan
- L3 CIRENG ISI
L3 CIRENG ISI adalah kuliner khas tatar sunda yang sudah dimodernisir mulai dari bentuk, rasa, isi dan penyajiannya. Modal Minimal Rp 5.000.000.
- Mr. Tacoz
Makanan khas Meksiko dengan harga terjangkau dan halal Modal Minimal Rp 20.000.000
Masih banyak lagi peluang usaha Waralaba makanan yang ditawarkan. Yang terpenting kita harus jeli dalam memilih waralaba jangan sampai terbujuk oleh janji-janji yang manis tetapi tidak realistis.
Sumber:
1. http://www.waralabaku.com
Peluang Usaha Ada Di Sekitar Kita
Sesungguhnya peluang bisnis itu tidak jauh-jauh dari sekitar kehidupan kita karena itu kita tidak perlu bersusah payah mencarinya. Jika memang kita siap menerima peluang usaha tersebut, tentu akan datang dengan sendirinya. Contoh sederhana saja, setiap hari manusia memerlukan makanan berupa nasi, untuk makan nasi manusia perlu membeli beras. Untuk membeli bisa membeli perlu ada orang yang menjualnya, perlu ada yang menanamnya. Bukankah dari hal itu ada peluang usaha? Peluang usaha berjualan beras, peluang usaha menanam padi yang berkualitas tinggi. Dan masih banyak lagi peluang usaha dari kehidupan kita sehari-hari yang bisa kita temukan.
Kenyataannya betapa sulit kita bisa menemukan peluang usaha yang cocok bagi kita. Permasalahannya memang bukan tidak adanya peluang usaha tetapi diri kita yang tidak siap atau tidak mempersiapkan diri menangkap peluang usaha yang ada di sekitar kita. Ada beberapa permasalahan yang menyebabkan diri kita tidak siap menerima peluang usaha di sekitar kita, sehingga peluang usaha tidak nampak di hadapan kita.Salah satunya adalah menganggap remeh pada hal-hal kecil yang sebenarnya memiliki potensi besar. Biasanya kita tidak telaten menekuni bisnis yang keuntungannya recehan, meski sebuah bisnis mendatangkan keuntungan recehan tetapi jika dihitung kuantitas barang yang besar tentu keuntungan akan berlipat ganda. Kenapa kita tidak coba meluaskan pasar sehingga keuntungan menjadi besar.
Untuk mempersiapkan diri menemukan peluang usaha di sekitar kita, sudah saatnya kita jeli mengamati keadan sekitar dan juga mengamati diri sendiri. Dalam Konsep Perang Sun Tsu dinyatakan mengetahui kekuatan maupun kelemahan diri sendiri, sekaligus mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan. Hasilnya, 100 kali berperang, 100 kali menang. Inilah pentingnya kita bisa menilai diri sendiri dan keadaan sekitar kita (lingkungan bisnis) agar dapat menangkap peluang usaha dan menjadikannya sumber keuntungan bagi kita.
Pendekatan ini dalam bisnis sering disebut dengan Analisis SWOT (Strenghts, Weaknesses, Oportunities dan Threats), Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Teori ini sering dipakai orang untuk melakukan analisa bisnis yang terbukti cukup ampuh sebagai landasan untuk mengambil keputusan strategis bisnis.
Di Dalam mengambil keputusan untuk mengambil bagian dari sebuah peluang usaha yang bisa kita lakukan adalah membuat analisa peluang usaha dengan langkah-langkah sebagai berikut :
- Melihat kekuatan dan kelebihan yang kita miliki terhadap sebuah potensi peluang usaha. Misal ada peluang Bisnis Sembako di sebuah kompleks perumahan. Jika rumah kita kebetulan di pinggir jalan yang ramai ini adalah kekuatan kita untuk bisa terjun bisnis Toko sembako.
- Weakness, karena baru dalam berbisnis sembako kita belum memiliki informasi dan relasi suplier yang sanggup menyediakan bahan sembako dengan harga murah.
- Oportunities, Karena kompleks masih baru dan penghuninya cukup banyak, lokasi dengan pasar dan swalayan jauh , sedangkan kebutuhan sembako terus menerus sedang kebutuhan sembako adalah kebutuhan primer maka peluang usaha sembako menjadi cukup memiliki prospek yang baik.
- Threats, Mulai munculnya pedagang-pedagang sembako keliling dengan harga yang cukup murah bisa menjadi pesaing usaha kita.
Dengan mengetahui beberapa kelemahan dan kelebihan baik dari sisi internal maupun eksternal, kita dapat mengambil langkah-langkah dan perencanaan dalam mengambil peluang usaha tersebut. Dengan demikian usaha yang dijalankan tidak sekedar berjalan tanpa arah dan tujuan jelas. Dengan analisa tersebut saat kita melangkah mengambil sebuah peluang usaha ada target-target yang terukur dan terencana.
Kenyataannya betapa sulit kita bisa menemukan peluang usaha yang cocok bagi kita. Permasalahannya memang bukan tidak adanya peluang usaha tetapi diri kita yang tidak siap atau tidak mempersiapkan diri menangkap peluang usaha yang ada di sekitar kita. Ada beberapa permasalahan yang menyebabkan diri kita tidak siap menerima peluang usaha di sekitar kita, sehingga peluang usaha tidak nampak di hadapan kita.Salah satunya adalah menganggap remeh pada hal-hal kecil yang sebenarnya memiliki potensi besar. Biasanya kita tidak telaten menekuni bisnis yang keuntungannya recehan, meski sebuah bisnis mendatangkan keuntungan recehan tetapi jika dihitung kuantitas barang yang besar tentu keuntungan akan berlipat ganda. Kenapa kita tidak coba meluaskan pasar sehingga keuntungan menjadi besar.
Untuk mempersiapkan diri menemukan peluang usaha di sekitar kita, sudah saatnya kita jeli mengamati keadan sekitar dan juga mengamati diri sendiri. Dalam Konsep Perang Sun Tsu dinyatakan mengetahui kekuatan maupun kelemahan diri sendiri, sekaligus mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan. Hasilnya, 100 kali berperang, 100 kali menang. Inilah pentingnya kita bisa menilai diri sendiri dan keadaan sekitar kita (lingkungan bisnis) agar dapat menangkap peluang usaha dan menjadikannya sumber keuntungan bagi kita.
Pendekatan ini dalam bisnis sering disebut dengan Analisis SWOT (Strenghts, Weaknesses, Oportunities dan Threats), Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Teori ini sering dipakai orang untuk melakukan analisa bisnis yang terbukti cukup ampuh sebagai landasan untuk mengambil keputusan strategis bisnis.
Di Dalam mengambil keputusan untuk mengambil bagian dari sebuah peluang usaha yang bisa kita lakukan adalah membuat analisa peluang usaha dengan langkah-langkah sebagai berikut :
- Melihat kekuatan dan kelebihan yang kita miliki terhadap sebuah potensi peluang usaha. Misal ada peluang Bisnis Sembako di sebuah kompleks perumahan. Jika rumah kita kebetulan di pinggir jalan yang ramai ini adalah kekuatan kita untuk bisa terjun bisnis Toko sembako.
- Weakness, karena baru dalam berbisnis sembako kita belum memiliki informasi dan relasi suplier yang sanggup menyediakan bahan sembako dengan harga murah.
- Oportunities, Karena kompleks masih baru dan penghuninya cukup banyak, lokasi dengan pasar dan swalayan jauh , sedangkan kebutuhan sembako terus menerus sedang kebutuhan sembako adalah kebutuhan primer maka peluang usaha sembako menjadi cukup memiliki prospek yang baik.
- Threats, Mulai munculnya pedagang-pedagang sembako keliling dengan harga yang cukup murah bisa menjadi pesaing usaha kita.
Dengan mengetahui beberapa kelemahan dan kelebihan baik dari sisi internal maupun eksternal, kita dapat mengambil langkah-langkah dan perencanaan dalam mengambil peluang usaha tersebut. Dengan demikian usaha yang dijalankan tidak sekedar berjalan tanpa arah dan tujuan jelas. Dengan analisa tersebut saat kita melangkah mengambil sebuah peluang usaha ada target-target yang terukur dan terencana.
Subscribe to:
Posts (Atom)





